‘aku ingin lahir ketika waktunya..
aku ingin bernafas ketika waktunya..
aku ingin mencium ketika waktunya..
aku ingin bergerak ketika waktunya..
aku ingin melihat ketika waktunya..
aku ingin ketika tiba waktunya..
agar aku tepat melangkah mulai dari kanan..
kaki ini bukan penunjuk jalan..
tangan ini bukan penunjuk arah..
dan badan ini sulit kugerakkan ke arah yang kumau..
apakah kamu juga merasa begitu?
apakah kamu juga manusia yang berkata dengan perkasa?
“jangan berbuat jahat!”
lalu kenapa kamu masih mencubit?
lalu kenapa kamu masih memukul?
lalu kenapa kamu masih berbohong?
lalu kenapa kamu menyembunyikan wajahmu ketika kamu dihakimi?
lalu kenapa kamu masih hidup?
lalu kamu tahu jalan hidupmu?
. . .
tidak jawabmu.. dan aku..’